ssst… jangan berisik,
ada yang sedang seru berdebat
Amira namanya remaja putri berusia dua puluh tahun yang sangat ramah. Mengenakan busana muslimah yang menurutku tidak begitu ekstrim seperti remaja putri binaan di kampusku. Ramah, anggun, santun, tidak pernah membeda-bedakan masalah agama dalam berteman. Banyak teman yang senang bergaul dengannya termasuk juga aku yang bisa begitu cocok pada berbagai pandangan pengetahuan agama. Meskipun Amira dan aku berbeda dari sudut latar belakang yang notabene aku lulusan dari ponpes tradisional dan dia dari ponpes modern namun dalam berbagai hal seperti saling melengkapi satu sama lain.
Meskipun berasal dari latar belakang seorang pesantren namun dia dalam mengamalkan dari apa yang pernah dia pelajari di pesantren tidak pernah terlalu muluk-muluk atau ditonjolkan. Begitu juga dalam mengingatkan temannya yang seagama yang dirasa kurang memenuhi pereaturan agama, dia tidak lantas langsung menegur, namun diberi tahu dengan lembut dan tidak sedikitpun melukai perasaan yang diingatkan tersebut.
“maaf mbak, jilbabnya belum menutupi semua rambutnya mbak!”
Tegur Mira sapaan akrab Amira pada suatu ketika aku melihatnya dibelakang kelas sedang memberi nasehat kepada temannya.
Dia sangat menghormati hak dan pendapat orang lain. Jika teman tersebut memiliki alasan meskipun tidak logis untuk menjawab pertanyaanya, dia tidak lantas langsung menyembur dan menyatakan salah kepada temannya tersebut. Yang selalu menjadi perhatianku dia mau berteman dengan temannya yang beda agama. Sehingga meskipun dia berjilbab, temannya yang berbeda agama tersebut tidak pernah sungkan untuk bergaul, mengobrol, sharing dengannya.
Aku kenal dengannya baru satu setengah tahun belakang ini, saat aku masuk jurusan sastra Inggris sama seperti jurusan yang dia tempuh. Meskipun usianya satu tahun dibawahku namun dia menjadi kakak tengkatku di salah satu perguruan tinggi negeri di jawa tengah namun dia tetap menghormati aku untuk memanggilnya mas, karena dia tahu kalau aku waktu SMA dulu adalah kakak kelasnya. Kadang pula dia memanggilku dengan sebutan “dek” jika sedang becanda dan iseng denganku.
Hal lain yang menjadi perhatianku juga dari teman remaja putri seangkatannya yang menjadi mahasiswa binaan kerohanian islam di kampusku. Mereka memakai baju gamis dengan jilbab yang besar bahkan ada yang memakai cadar seperti adat masyarakat Arab. Namun sayangnya dalam hal amar makruf nahi munkar yang menjadi semangat mereka menegakkan agama islam aku rasa kurang mencerminkan budaya islam yang begitu santun.
Apabila mereka melihat sesuatu yang menurut pemahamannya dianggap munkar, maka tidak segan-segan mereka menegur secara terang-terangan langsung dihadapannya. Ketika melihat teman putri yang biasa mereka panggil atau sebut dengan panggilan ukhti yang kurang rapat jilbabnya sehingga rambutnya terlihat dan yang bercelana ketat mereka pun langsung menegur habis-habisan.
“harusnya tu sebagai akhwat yang muslimah memakai pakaian yang longgar dan jilbabnya juga besar sehingga dapat menutupi bagian atas dari tubuh kita ukhti!!” cerita salah satu temanku yang pernah ditegur oleh mereka.
“ukhti, tahu hukumnya dekat dengan ikhwan yang notabene jelas-jelas bukan muhrim nggak?” tegur salah satu mahasiswi binaan kepada teman seangkatanku pada saat dia memergokinya sedang berduaan dengan teman laki-lakinya.
“itu salah satu jurus ampuh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam jurang perzinaan ukh!” tambah mahasiswi binaan tersebut.
Tak pelak Amira pun pernah menjadi sasaran teguran oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“ukh, kok temannya banyak yang non islam?” suatu ketika saat Amira sedang berpapasan dengannya.
Sontak Amira kaget dengan teguran kakak tingkatnya tersebut,
“lho maaf mbak, memangnya nggak boleh ya orang muslim berteman dengan orang yang non muslim?”
“bukan begitu ukh, kita harus bisa memilih teman yang baik yang sesuai sareat islam. Ukhti pernah mendengar dalil yang menyatakan ketidakbolehan umat muslim untuk bergaul dengan orang yang non muslim kan?” mahasiswi binaan tersebut mencoba mengertikan maksudnya kepada Amira.
Amira pun hanya mengangguk sekedar mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena telah diingatkan lantas pergi meninggalkannya untuk menghindari perdebatan yang tiada guna. Seandainya Amira menghendaki untuk berdebat aku rasa dia sangat mampu, namun bukan itu yang diinginkannya.
Pernah suatu pagi aku ditelpon oleh Amira menanyakan tentang alasan mengapa tauhid merupakan pokok dari agama islam, dan meminta dicarikan dalil dari hal tersebut.
“memangnya untuk apa mir?” tanyaku agak pesimis terhadap pertanyaannya, karna aku tahu sepertinya dia juga tahu jawabannya.
Akhirnya setelah kutanyakan alasan mengapa menanyakan hal tersebut dia menceritakan kejadian yang sebenarnya yang sedang dia alami.
“begini mas, tadi saat saya kegiatan mentoring kakak mentor saya membahas masalah tauhid yang merupakan pokok dari agam islam. Lantas aku bertanya alasan mengapa tauhid menjadi pokok dari agama islam, tapi mbak mentornya malah menjawab “kan ada dalilnya tu dalam Al-quran surat al ikhlas ukh”
Bukankah dalil tersebut merupakan sifat dari Allah dan pengukuhan bahwa Allah itu satu ya kan mas?” seolah dia kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh kakak mentornya. Dan aku mencoba menjelaskan alasan dari pertanyaan yang ditujukan kepada kakak mentornya tersebut.
“lalu dalilnya ada nggak mas?” amira menanyakan kefalidtan dari uraianku.
“sebentar aku cari dulu di kitab Qomi’ Thugyan, nanti kalau sudah ketemu biar aku beri tahu ke kamu lewat sms atau langsung.” Aku mencoba menawar waktu untuk memastikan kefalidtan dari pendapatku.
“terimakasih mas, atas bantuannya. Tadi tu mbak mentornya bersikukuh mengatakan bahwa surat al ikhlas itu dalilnya namun saya masih ragu dengan jawabannya tersebut.” Aku merasakan kecemasannya mulai mereda setelah mendengar jawabanku.
Yang lucu darinya seingatku pada saat dia berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswi binaan dari satu bidang organisasi kampus.
“afwan ukhti Mira ana tadi kurang paham dengan maksud antum.” Tanya seorang dari mereka kepada Amira.
Amira hanya melototkan mata dan diam agaknya kurang mengerti dari bahasa yang digunakan oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“oh afwan, antum bukan mahasiswi binaan ya? Jadi kurang mengerti dengan beberapa kata yang saya ucapkan. Maaf ya?”
Amira hanya tersenyum kemudian dia dengan santai menjawab pertanyaan tersebut menggunakan bahasa arab penuh dan lancar dalam pengucapannya. “fa’fu ‘anni bi hali dzalik, inna jawabiy kadza wa kadza. Fahimta?”
Sontak empat temannya yang sedang berdiskusi tersebut terheran-heran dengan kelancaran bahasa arab yang diucapkan Amira.
Amira pun tertawa mengingat kejadian tersebut ketika menceritakaanya kepadaku.
Sekitar pukul tiga belas selepas sholat dhuhur, aku dan Amira yang kebetulan satu bidang dalam organisasi mahasiswa bahasa inggris yang mengorganisasi tentang keagamaan islam mengikuti acara sarasehan yang diadakan di aula masjid Futuhiyah. Dalam kesempatan tersebut setiap anggota dipersilakan untuk mengeluarkan unek-unek ataupun kritik dan saran untuk bidang satu ini dan kepada kabid sekbidnya.
Aku yang mendapat kesempatan pertama langsung mengeluarkan unek-unek yang selama ini aku rasakan karena sangat jarang mendapat undangan rapat bidang dan berbagai kegiatan acara yang menjadi proker bidang ini. Aku mengulas banyak kekurangan yang aku rasakan.
“maaf mas memang saya ini tidak begitu piawai dan senang dalam organisasi, namun setidaknya juga perlu diperhatikan lah… kan saya juga masih tercatat sebagai anggota bidang ini. Mungkin bukan hanya saya saja namun juga yang lain agar lebih bersemangat dalam berorganisasi.”
Mas Afrizal yang menjadi kabid menanggapi unek-unek dari anggota-anggota yang lainnya juga dan menyatakan kesediaannya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bidang satu.
Giliran sekbid mbak Zahro mengutarakan unek-uneknya, “... ya, paling tidak semua anggota dari bidang satu ini bisa diarahkan dari yang semula berpakaian ketat sekarang menjadi longar dan berjilbab besar. Untuk yang ikhwan diharapkan untuk mengenakan celana yang tingginya berada di atas mata kaki dan kalo bisa lagi nih, di usahakan untuk memelihara jenggot kan dua hal tersebut merupakan anjuran nabi besar Muhammad SAW.”
Amira yang agaknya kurang setuju dengan pendapat tersebut menunggu mbak zahro menyelesaikan pembicaraan dan angkat bicara untuk menanggapinya.
“mohon maaf sebelumnya, bukannya saya menentang dari beberapa anjuran dalam islam tersebut mbak. Namun bukankah islam adalah agama rahmatan lili’alamin? Dan tidak ada paksaan dalam melaksanakannya. La ikroha fiddiin. Saya rasa semua orang bebas untuk menentukan pilihannya dalam anjuran ini. Jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak dengan dalil-dalil yang kita punya untuk menerapkannya. Memang kita harus ber amar ma’ruf dan nahi munkar, namun bukan seperti itu yang di anjurkan oleh nabi kita mbak! Kita harus menggunakan bahasa yang santun dan tidak boleh sampai menyakiti hati orang tersebut. Misalkan ada putra yang mengenakan celana yang panjangnya hingga mencapai di bawah mata kaki itupun ada pendapat ulama yang memperbolehkannya. Menurut imam Syafii pun hal semacam tersebut bukanlah suatu amalan yang berdosa, karna yang menjadi penyebab sumber dosa dari referensi hadis nabi mengenai hala tersebut adalah bmengenakan dengan niatan sombong. Jadi misalkan ada putra yang mengenakan celana sampai di atas mata kaki dengan niatan sombong itu pun juga termasuk dosa.”
Tak mau kalah dengan Amira yang merupakan adik tingkat dari mbak Zahro, mbak Zahro pun mengeluarkan argumen yang tak kalah kuatnya hingga suasana pun memanas.
Aku hanya terdiam sambil tersenyum melihat suasana tersebut. Sambil mengamati wajah Amira yang begitu tegas dan semakin menambah wibawa kecantikannya di saat sedang berdebat. Aku pun mengatakan kepada teman yang duduk di sebelahku “ssst… jangan berisik, ada yang sedang seru berdebat.”
Karanganyar, 7 Juni 2010
ssst… jangan berisik, ada yang sedang seru berdebat
ssst… jangan berisik,
ada yang sedang seru berdebat
Amira namanya remaja putri berusia dua puluh tahun yang sangat ramah. Mengenakan busana muslimah yang menurutku tidak begitu ekstrim seperti remaja putri binaan di kampusku. Ramah, anggun, santun, tidak pernah membeda-bedakan masalah agama dalam berteman. Banyak teman yang senang bergaul dengannya termasuk juga aku yang bisa begitu cocok pada berbagai pandangan pengetahuan agama. Meskipun Amira dan aku berbeda dari sudut latar belakang yang notabene aku lulusan dari ponpes tradisional dan dia dari ponpes modern namun dalam berbagai hal seperti saling melengkapi satu sama lain.
Meskipun berasal dari latar belakang seorang pesantren namun dia dalam mengamalkan dari apa yang pernah dia pelajari di pesantren tidak pernah terlalu muluk-muluk atau ditonjolkan. Begitu juga dalam mengingatkan temannya yang seagama yang dirasa kurang memenuhi pereaturan agama, dia tidak lantas langsung menegur, namun diberi tahu dengan lembut dan tidak sedikitpun melukai perasaan yang diingatkan tersebut.
“maaf mbak, jilbabnya belum menutupi semua rambutnya mbak!”
Tegur Mira sapaan akrab Amira pada suatu ketika aku melihatnya dibelakang kelas sedang memberi nasehat kepada temannya.
Dia sangat menghormati hak dan pendapat orang lain. Jika teman tersebut memiliki alasan meskipun tidak logis untuk menjawab pertanyaanya, dia tidak lantas langsung menyembur dan menyatakan salah kepada temannya tersebut. Yang selalu menjadi perhatianku dia mau berteman dengan temannya yang beda agama. Sehingga meskipun dia berjilbab, temannya yang berbeda agama tersebut tidak pernah sungkan untuk bergaul, mengobrol, sharing dengannya.
Aku kenal dengannya baru satu setengah tahun belakang ini, saat aku masuk jurusan sastra Inggris sama seperti jurusan yang dia tempuh. Meskipun usianya satu tahun dibawahku namun dia menjadi kakak tengkatku di salah satu perguruan tinggi negeri di jawa tengah namun dia tetap menghormati aku untuk memanggilnya mas, karena dia tahu kalau aku waktu SMA dulu adalah kakak kelasnya. Kadang pula dia memanggilku dengan sebutan “dek” jika sedang becanda dan iseng denganku.
Hal lain yang menjadi perhatianku juga dari teman remaja putri seangkatannya yang menjadi mahasiswa binaan kerohanian islam di kampusku. Mereka memakai baju gamis dengan jilbab yang besar bahkan ada yang memakai cadar seperti adat masyarakat Arab. Namun sayangnya dalam hal amar makruf nahi munkar yang menjadi semangat mereka menegakkan agama islam aku rasa kurang mencerminkan budaya islam yang begitu santun.
Apabila mereka melihat sesuatu yang menurut pemahamannya dianggap munkar, maka tidak segan-segan mereka menegur secara terang-terangan langsung dihadapannya. Ketika melihat teman putri yang biasa mereka panggil atau sebut dengan panggilan ukhti yang kurang rapat jilbabnya sehingga rambutnya terlihat dan yang bercelana ketat mereka pun langsung menegur habis-habisan.
“harusnya tu sebagai akhwat yang muslimah memakai pakaian yang longgar dan jilbabnya juga besar sehingga dapat menutupi bagian atas dari tubuh kita ukhti!!” cerita salah satu temanku yang pernah ditegur oleh mereka.
“ukhti, tahu hukumnya dekat dengan ikhwan yang notabene jelas-jelas bukan muhrim nggak?” tegur salah satu mahasiswi binaan kepada teman seangkatanku pada saat dia memergokinya sedang berduaan dengan teman laki-lakinya.
“itu salah satu jurus ampuh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam jurang perzinaan ukh!” tambah mahasiswi binaan tersebut.
Tak pelak Amira pun pernah menjadi sasaran teguran oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“ukh, kok temannya banyak yang non islam?” suatu ketika saat Amira sedang berpapasan dengannya.
Sontak Amira kaget dengan teguran kakak tingkatnya tersebut,
“lho maaf mbak, memangnya nggak boleh ya orang muslim berteman dengan orang yang non muslim?”
“bukan begitu ukh, kita harus bisa memilih teman yang baik yang sesuai sareat islam. Ukhti pernah mendengar dalil yang menyatakan ketidakbolehan umat muslim untuk bergaul dengan orang yang non muslim kan?” mahasiswi binaan tersebut mencoba mengertikan maksudnya kepada Amira.
Amira pun hanya mengangguk sekedar mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena telah diingatkan lantas pergi meninggalkannya untuk menghindari perdebatan yang tiada guna. Seandainya Amira menghendaki untuk berdebat aku rasa dia sangat mampu, namun bukan itu yang diinginkannya.
Pernah suatu pagi aku ditelpon oleh Amira menanyakan tentang alasan mengapa tauhid merupakan pokok dari agama islam, dan meminta dicarikan dalil dari hal tersebut.
“memangnya untuk apa mir?” tanyaku agak pesimis terhadap pertanyaannya, karna aku tahu sepertinya dia juga tahu jawabannya.
Akhirnya setelah kutanyakan alasan mengapa menanyakan hal tersebut dia menceritakan kejadian yang sebenarnya yang sedang dia alami.
“begini mas, tadi saat saya kegiatan mentoring kakak mentor saya membahas masalah tauhid yang merupakan pokok dari agam islam. Lantas aku bertanya alasan mengapa tauhid menjadi pokok dari agama islam, tapi mbak mentornya malah menjawab “kan ada dalilnya tu dalam Al-quran surat al ikhlas ukh”
Bukankah dalil tersebut merupakan sifat dari Allah dan pengukuhan bahwa Allah itu satu ya kan mas?” seolah dia kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh kakak mentornya. Dan aku mencoba menjelaskan alasan dari pertanyaan yang ditujukan kepada kakak mentornya tersebut.
“lalu dalilnya ada nggak mas?” amira menanyakan kefalidtan dari uraianku.
“sebentar aku cari dulu di kitab Qomi’ Thugyan, nanti kalau sudah ketemu biar aku beri tahu ke kamu lewat sms atau langsung.” Aku mencoba menawar waktu untuk memastikan kefalidtan dari pendapatku.
“terimakasih mas, atas bantuannya. Tadi tu mbak mentornya bersikukuh mengatakan bahwa surat al ikhlas itu dalilnya namun saya masih ragu dengan jawabannya tersebut.” Aku merasakan kecemasannya mulai mereda setelah mendengar jawabanku.
Yang lucu darinya seingatku pada saat dia berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswi binaan dari satu bidang organisasi kampus.
“afwan ukhti Mira ana tadi kurang paham dengan maksud antum.” Tanya seorang dari mereka kepada Amira.
Amira hanya melototkan mata dan diam agaknya kurang mengerti dari bahasa yang digunakan oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“oh afwan, antum bukan mahasiswi binaan ya? Jadi kurang mengerti dengan beberapa kata yang saya ucapkan. Maaf ya?”
Amira hanya tersenyum kemudian dia dengan santai menjawab pertanyaan tersebut menggunakan bahasa arab penuh dan lancar dalam pengucapannya. “fa’fu ‘anni bi hali dzalik, inna jawabiy kadza wa kadza. Fahimta?”
Sontak empat temannya yang sedang berdiskusi tersebut terheran-heran dengan kelancaran bahasa arab yang diucapkan Amira.
Amira pun tertawa mengingat kejadian tersebut ketika menceritakaanya kepadaku.
Sekitar pukul tiga belas selepas sholat dhuhur, aku dan Amira yang kebetulan satu bidang dalam organisasi mahasiswa bahasa inggris yang mengorganisasi tentang keagamaan islam mengikuti acara sarasehan yang diadakan di aula masjid Futuhiyah. Dalam kesempatan tersebut setiap anggota dipersilakan untuk mengeluarkan unek-unek ataupun kritik dan saran untuk bidang satu ini dan kepada kabid sekbidnya.
Aku yang mendapat kesempatan pertama langsung mengeluarkan unek-unek yang selama ini aku rasakan karena sangat jarang mendapat undangan rapat bidang dan berbagai kegiatan acara yang menjadi proker bidang ini. Aku mengulas banyak kekurangan yang aku rasakan.
“maaf mas memang saya ini tidak begitu piawai dan senang dalam organisasi, namun setidaknya juga perlu diperhatikan lah… kan saya juga masih tercatat sebagai anggota bidang ini. Mungkin bukan hanya saya saja namun juga yang lain agar lebih bersemangat dalam berorganisasi.”
Mas Afrizal yang menjadi kabid menanggapi unek-unek dari anggota-anggota yang lainnya juga dan menyatakan kesediaannya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bidang satu.
Giliran sekbid mbak Zahro mengutarakan unek-uneknya, “... ya, paling tidak semua anggota dari bidang satu ini bisa diarahkan dari yang semula berpakaian ketat sekarang menjadi longar dan berjilbab besar. Untuk yang ikhwan diharapkan untuk mengenakan celana yang tingginya berada di atas mata kaki dan kalo bisa lagi nih, di usahakan untuk memelihara jenggot kan dua hal tersebut merupakan anjuran nabi besar Muhammad SAW.”
Amira yang agaknya kurang setuju dengan pendapat tersebut menunggu mbak zahro menyelesaikan pembicaraan dan angkat bicara untuk menanggapinya.
“mohon maaf sebelumnya, bukannya saya menentang dari beberapa anjuran dalam islam tersebut mbak. Namun bukankah islam adalah agama rahmatan lili’alamin? Dan tidak ada paksaan dalam melaksanakannya. La ikroha fiddiin. Saya rasa semua orang bebas untuk menentukan pilihannya dalam anjuran ini. Jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak dengan dalil-dalil yang kita punya untuk menerapkannya. Memang kita harus ber amar ma’ruf dan nahi munkar, namun bukan seperti itu yang di anjurkan oleh nabi kita mbak! Kita harus menggunakan bahasa yang santun dan tidak boleh sampai menyakiti hati orang tersebut. Misalkan ada putra yang mengenakan celana yang panjangnya hingga mencapai di bawah mata kaki itupun ada pendapat ulama yang memperbolehkannya. Menurut imam Syafii pun hal semacam tersebut bukanlah suatu amalan yang berdosa, karna yang menjadi penyebab sumber dosa dari referensi hadis nabi mengenai hala tersebut adalah bmengenakan dengan niatan sombong. Jadi misalkan ada putra yang mengenakan celana sampai di atas mata kaki dengan niatan sombong itu pun juga termasuk dosa.”
Tak mau kalah dengan Amira yang merupakan adik tingkat dari mbak Zahro, mbak Zahro pun mengeluarkan argumen yang tak kalah kuatnya hingga suasana pun memanas.
Aku hanya terdiam sambil tersenyum melihat suasana tersebut. Sambil mengamati wajah Amira yang begitu tegas dan semakin menambah wibawa kecantikannya di saat sedang berdebat. Aku pun mengatakan kepada teman yang duduk di sebelahku “ssst… jangan berisik, ada yang sedang seru berdebat.”
Karanganyar, 7 Juni 2010
ada yang sedang seru berdebat
Amira namanya remaja putri berusia dua puluh tahun yang sangat ramah. Mengenakan busana muslimah yang menurutku tidak begitu ekstrim seperti remaja putri binaan di kampusku. Ramah, anggun, santun, tidak pernah membeda-bedakan masalah agama dalam berteman. Banyak teman yang senang bergaul dengannya termasuk juga aku yang bisa begitu cocok pada berbagai pandangan pengetahuan agama. Meskipun Amira dan aku berbeda dari sudut latar belakang yang notabene aku lulusan dari ponpes tradisional dan dia dari ponpes modern namun dalam berbagai hal seperti saling melengkapi satu sama lain.
Meskipun berasal dari latar belakang seorang pesantren namun dia dalam mengamalkan dari apa yang pernah dia pelajari di pesantren tidak pernah terlalu muluk-muluk atau ditonjolkan. Begitu juga dalam mengingatkan temannya yang seagama yang dirasa kurang memenuhi pereaturan agama, dia tidak lantas langsung menegur, namun diberi tahu dengan lembut dan tidak sedikitpun melukai perasaan yang diingatkan tersebut.
“maaf mbak, jilbabnya belum menutupi semua rambutnya mbak!”
Tegur Mira sapaan akrab Amira pada suatu ketika aku melihatnya dibelakang kelas sedang memberi nasehat kepada temannya.
Dia sangat menghormati hak dan pendapat orang lain. Jika teman tersebut memiliki alasan meskipun tidak logis untuk menjawab pertanyaanya, dia tidak lantas langsung menyembur dan menyatakan salah kepada temannya tersebut. Yang selalu menjadi perhatianku dia mau berteman dengan temannya yang beda agama. Sehingga meskipun dia berjilbab, temannya yang berbeda agama tersebut tidak pernah sungkan untuk bergaul, mengobrol, sharing dengannya.
Aku kenal dengannya baru satu setengah tahun belakang ini, saat aku masuk jurusan sastra Inggris sama seperti jurusan yang dia tempuh. Meskipun usianya satu tahun dibawahku namun dia menjadi kakak tengkatku di salah satu perguruan tinggi negeri di jawa tengah namun dia tetap menghormati aku untuk memanggilnya mas, karena dia tahu kalau aku waktu SMA dulu adalah kakak kelasnya. Kadang pula dia memanggilku dengan sebutan “dek” jika sedang becanda dan iseng denganku.
Hal lain yang menjadi perhatianku juga dari teman remaja putri seangkatannya yang menjadi mahasiswa binaan kerohanian islam di kampusku. Mereka memakai baju gamis dengan jilbab yang besar bahkan ada yang memakai cadar seperti adat masyarakat Arab. Namun sayangnya dalam hal amar makruf nahi munkar yang menjadi semangat mereka menegakkan agama islam aku rasa kurang mencerminkan budaya islam yang begitu santun.
Apabila mereka melihat sesuatu yang menurut pemahamannya dianggap munkar, maka tidak segan-segan mereka menegur secara terang-terangan langsung dihadapannya. Ketika melihat teman putri yang biasa mereka panggil atau sebut dengan panggilan ukhti yang kurang rapat jilbabnya sehingga rambutnya terlihat dan yang bercelana ketat mereka pun langsung menegur habis-habisan.
“harusnya tu sebagai akhwat yang muslimah memakai pakaian yang longgar dan jilbabnya juga besar sehingga dapat menutupi bagian atas dari tubuh kita ukhti!!” cerita salah satu temanku yang pernah ditegur oleh mereka.
“ukhti, tahu hukumnya dekat dengan ikhwan yang notabene jelas-jelas bukan muhrim nggak?” tegur salah satu mahasiswi binaan kepada teman seangkatanku pada saat dia memergokinya sedang berduaan dengan teman laki-lakinya.
“itu salah satu jurus ampuh setan untuk menjerumuskan manusia ke dalam jurang perzinaan ukh!” tambah mahasiswi binaan tersebut.
Tak pelak Amira pun pernah menjadi sasaran teguran oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“ukh, kok temannya banyak yang non islam?” suatu ketika saat Amira sedang berpapasan dengannya.
Sontak Amira kaget dengan teguran kakak tingkatnya tersebut,
“lho maaf mbak, memangnya nggak boleh ya orang muslim berteman dengan orang yang non muslim?”
“bukan begitu ukh, kita harus bisa memilih teman yang baik yang sesuai sareat islam. Ukhti pernah mendengar dalil yang menyatakan ketidakbolehan umat muslim untuk bergaul dengan orang yang non muslim kan?” mahasiswi binaan tersebut mencoba mengertikan maksudnya kepada Amira.
Amira pun hanya mengangguk sekedar mengangguk dan mengucapkan terimakasih karena telah diingatkan lantas pergi meninggalkannya untuk menghindari perdebatan yang tiada guna. Seandainya Amira menghendaki untuk berdebat aku rasa dia sangat mampu, namun bukan itu yang diinginkannya.
Pernah suatu pagi aku ditelpon oleh Amira menanyakan tentang alasan mengapa tauhid merupakan pokok dari agama islam, dan meminta dicarikan dalil dari hal tersebut.
“memangnya untuk apa mir?” tanyaku agak pesimis terhadap pertanyaannya, karna aku tahu sepertinya dia juga tahu jawabannya.
Akhirnya setelah kutanyakan alasan mengapa menanyakan hal tersebut dia menceritakan kejadian yang sebenarnya yang sedang dia alami.
“begini mas, tadi saat saya kegiatan mentoring kakak mentor saya membahas masalah tauhid yang merupakan pokok dari agam islam. Lantas aku bertanya alasan mengapa tauhid menjadi pokok dari agama islam, tapi mbak mentornya malah menjawab “kan ada dalilnya tu dalam Al-quran surat al ikhlas ukh”
Bukankah dalil tersebut merupakan sifat dari Allah dan pengukuhan bahwa Allah itu satu ya kan mas?” seolah dia kurang puas dengan jawaban yang diberikan oleh kakak mentornya. Dan aku mencoba menjelaskan alasan dari pertanyaan yang ditujukan kepada kakak mentornya tersebut.
“lalu dalilnya ada nggak mas?” amira menanyakan kefalidtan dari uraianku.
“sebentar aku cari dulu di kitab Qomi’ Thugyan, nanti kalau sudah ketemu biar aku beri tahu ke kamu lewat sms atau langsung.” Aku mencoba menawar waktu untuk memastikan kefalidtan dari pendapatku.
“terimakasih mas, atas bantuannya. Tadi tu mbak mentornya bersikukuh mengatakan bahwa surat al ikhlas itu dalilnya namun saya masih ragu dengan jawabannya tersebut.” Aku merasakan kecemasannya mulai mereda setelah mendengar jawabanku.
Yang lucu darinya seingatku pada saat dia berbincang-bincang dengan beberapa mahasiswi binaan dari satu bidang organisasi kampus.
“afwan ukhti Mira ana tadi kurang paham dengan maksud antum.” Tanya seorang dari mereka kepada Amira.
Amira hanya melototkan mata dan diam agaknya kurang mengerti dari bahasa yang digunakan oleh salah satu mahasiswi binaan tersebut.
“oh afwan, antum bukan mahasiswi binaan ya? Jadi kurang mengerti dengan beberapa kata yang saya ucapkan. Maaf ya?”
Amira hanya tersenyum kemudian dia dengan santai menjawab pertanyaan tersebut menggunakan bahasa arab penuh dan lancar dalam pengucapannya. “fa’fu ‘anni bi hali dzalik, inna jawabiy kadza wa kadza. Fahimta?”
Sontak empat temannya yang sedang berdiskusi tersebut terheran-heran dengan kelancaran bahasa arab yang diucapkan Amira.
Amira pun tertawa mengingat kejadian tersebut ketika menceritakaanya kepadaku.
Sekitar pukul tiga belas selepas sholat dhuhur, aku dan Amira yang kebetulan satu bidang dalam organisasi mahasiswa bahasa inggris yang mengorganisasi tentang keagamaan islam mengikuti acara sarasehan yang diadakan di aula masjid Futuhiyah. Dalam kesempatan tersebut setiap anggota dipersilakan untuk mengeluarkan unek-unek ataupun kritik dan saran untuk bidang satu ini dan kepada kabid sekbidnya.
Aku yang mendapat kesempatan pertama langsung mengeluarkan unek-unek yang selama ini aku rasakan karena sangat jarang mendapat undangan rapat bidang dan berbagai kegiatan acara yang menjadi proker bidang ini. Aku mengulas banyak kekurangan yang aku rasakan.
“maaf mas memang saya ini tidak begitu piawai dan senang dalam organisasi, namun setidaknya juga perlu diperhatikan lah… kan saya juga masih tercatat sebagai anggota bidang ini. Mungkin bukan hanya saya saja namun juga yang lain agar lebih bersemangat dalam berorganisasi.”
Mas Afrizal yang menjadi kabid menanggapi unek-unek dari anggota-anggota yang lainnya juga dan menyatakan kesediaannya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang terjadi pada bidang satu.
Giliran sekbid mbak Zahro mengutarakan unek-uneknya, “... ya, paling tidak semua anggota dari bidang satu ini bisa diarahkan dari yang semula berpakaian ketat sekarang menjadi longar dan berjilbab besar. Untuk yang ikhwan diharapkan untuk mengenakan celana yang tingginya berada di atas mata kaki dan kalo bisa lagi nih, di usahakan untuk memelihara jenggot kan dua hal tersebut merupakan anjuran nabi besar Muhammad SAW.”
Amira yang agaknya kurang setuju dengan pendapat tersebut menunggu mbak zahro menyelesaikan pembicaraan dan angkat bicara untuk menanggapinya.
“mohon maaf sebelumnya, bukannya saya menentang dari beberapa anjuran dalam islam tersebut mbak. Namun bukankah islam adalah agama rahmatan lili’alamin? Dan tidak ada paksaan dalam melaksanakannya. La ikroha fiddiin. Saya rasa semua orang bebas untuk menentukan pilihannya dalam anjuran ini. Jadi kita tidak boleh memaksakan kehendak dengan dalil-dalil yang kita punya untuk menerapkannya. Memang kita harus ber amar ma’ruf dan nahi munkar, namun bukan seperti itu yang di anjurkan oleh nabi kita mbak! Kita harus menggunakan bahasa yang santun dan tidak boleh sampai menyakiti hati orang tersebut. Misalkan ada putra yang mengenakan celana yang panjangnya hingga mencapai di bawah mata kaki itupun ada pendapat ulama yang memperbolehkannya. Menurut imam Syafii pun hal semacam tersebut bukanlah suatu amalan yang berdosa, karna yang menjadi penyebab sumber dosa dari referensi hadis nabi mengenai hala tersebut adalah bmengenakan dengan niatan sombong. Jadi misalkan ada putra yang mengenakan celana sampai di atas mata kaki dengan niatan sombong itu pun juga termasuk dosa.”
Tak mau kalah dengan Amira yang merupakan adik tingkat dari mbak Zahro, mbak Zahro pun mengeluarkan argumen yang tak kalah kuatnya hingga suasana pun memanas.
Aku hanya terdiam sambil tersenyum melihat suasana tersebut. Sambil mengamati wajah Amira yang begitu tegas dan semakin menambah wibawa kecantikannya di saat sedang berdebat. Aku pun mengatakan kepada teman yang duduk di sebelahku “ssst… jangan berisik, ada yang sedang seru berdebat.”
Karanganyar, 7 Juni 2010
Tips Menulis Cerpen
Menulis cerpen adalah salah satu “jalan pintas” yang paling sering digunakan seseorang untuk merintis jalan menjadi seorang penulis. Sebelum menjadi penulis beken, biasanya seseorang memulai dengan menulis cerpen di media massa atau majalah-majalah remaja. Cara seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh dengan menulis cerpen, sebenarnya kita juga sedang berbagi ideologi dari kisah-kisah pendek tersebut sebagaimana menulis novel, opini, artikel bahkan buku bacaan.
Namun demikian, banyak juga yang tidak jadi melanjutkan cita-citanya sebagai penulis hanya karena tidak dapat menyelesaikan cerpennya. Ada yang tidak tahu darimana mulai menuliskannya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerpennya. Celakanya, ketika ia tidak mengetahui hal tersebut, ia langsung mengutuk dirinya bahwa ia benar-benar tidak berbakat menjadi penulis.
Sebenarnya, tidak ada teori yang pasti mengenai penulisan cerpen. Namun, setidaknya tips dibawah ini dapat digunakan untuk memulai menulis cerpen. Yang penting untuk diingat, tips berikut adalah alat bantu untuk menulis cerpen. Jika kelak tips ini tidak membantu bahkan menyusahkan, jangan sungkan-sungkan untuk melupakannya.
Menentukan Tema Besar
Penentuan tema merupakan hal yang paling penting dalam penulisan cerpen. Sebelum membuat cerpen, setidaknya kita harus menentukan titik tekan (stressing point) dari cerpen tersebut. Ada banyak pilihan tema besar yang bisa kita pilih, diantaranya yaitu persahabatan, percintaan, sosial, budaya, sejarah, politik, sains dan tekhnologi, agama, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita memilih tema besar SEJARAH. Dari tema inilah kelak, kita akan membuat cerpen.
Menentukan Ide Cerita
Setelah kita menentukan tema besar, kita pastinya mempunyai ide-ide cerita yang berkaitan dengan tema besar tersebut. Percintaan misalnya, dalam hal ini kita bisa menemukan ide tentang pernikahan, perjumpaan pertama, rebutan pacar, saling kirim surat, dan lain sebagainya. Sangat banyak ide yang berkeliaran tentang tema percintaan. Begitu juga dengan tema-tema lainnya.
Dalam hal ini, ada satu hal yang filosofi menulis yang perlu kita ingat. “Janganlah memikirkan apa yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang sedang dipikirkan!” tulislah ide-ide itu sebanyak-banyaknya. Jangan pernah takut salah. Toh, ini belum menjadi cerpen. Hanya pencatatan ide saja. Karena tadi kita telah memilih SEJARAH sebagai tema besar, kita mungkin bisa mencatat ide sebagai berikut: cerita nabi, sejarah kemerdekaan, dongeng-dongeng masyarakat, malin kundang, sangkuriang, dan lain sebagainya.
Mengembangkan Ide
Nah, inilah saatnya kita mengembangkan ide-ide tersebut. Dari sekian banyak ide yang kita tuliskan, tentulah ada satu ide yang sangat akrab ditelinga bahkan telah ada gambaran mengenai jalan ceritanya. Itulah yang harus kita kembangkan.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu kita ingat adalah TEORI MENULIS ITU MUNCUL SETELAH ADA TULISAN. Jadi, tulislah sesuka hati, jangan pernah memikirkan apakah cerpen kita sesuai EYD atau tidak. Cerpen tersebut masuk akal atau tidak. Tokoh cerpen ini menarik atau tidak. Setting kejadiannya sesuai dengan aslinya atau tidak. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Dari ide diatas tadi, kita akan mengembangkan cerita nabi terkhusus nabi Ibrahim.
Merias Cerpen
Setelah ide tersebut kita kembangkan hingga dirasa cukup dan selesai, kini tibalah saatnya kita merias cerpen tersebut. Ingatlah sebuah teori yang mengatakan bahwa TIDAK ADA TULISAN YANG BAGUS KETIKA DITULIS PERTAMA KALINYA. Semua tulisan pastilah melalui proses editing. Dalam proses inilah, kita perlu memikirkan EYD, masuk akal atau tidaknya cerpen, tokohnya menarik atau tidak, dialognya terlalu formal atau nyata, setting kejadiannya sesuai asli atau tidak.
Kita juga perlu memikirkan apakah akhir dari cerpen ini memuaskan pembaca atau tidak. Mudah ditebak atau tidak. Jika semuanya telah cukup, selamat cerpen tersebut telah selesai.
Sebagai contoh berikut cerpen saya yang berhasil saya tulis dan telah dimuat di Nalar Magazine Edisi Pertama
Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim
Beberapa Bulan Yang Lalu
“Dek!” ujarku dihadapan istriku.
“Idul Adha tahun ini Abang ingin berkurban 1 ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”
“Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi dihadapanku.
Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum kambingku melahirkan. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.
Sebulan Menjelang Idul Adha
Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan induk perempuan dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani oleh kambing jantanku.
“tok…tok…tok!” suara ketukan pintu rumahku.
Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri dihadapanku. Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilahkannya untuk masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto, salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha. Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan beberapa bulan yang lalu.
“Bagaimanakah hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.
Ditengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan harta dijalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.
Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia kurban wilayahku. Dijalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.
“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.
“Wa’alaikum Salam” sapaku seraya bersalaman dengannya.
“Mau kemana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu”
Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami berhak untuk menerima hewan kurban bukan mengkurbankan hewan.
“Allah pasti tau mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tau toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim. Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan. Pakai doa dan tawakkal? Tidak mungkin pak! Lebih baik dipikirkan lagi tentang rencana itu.
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara. Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.
Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia mengetahui niatku tetapi, sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi kasihan terhadap nasibku.
“Lho? Bukankah pak Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”
“Ya saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya.” Begitu jawabku.
“atau saya beli. 700 ribu. Bapakkan bisa membeli kambing yang berharga 500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan solusi
Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun tidak dengan kambingku.
Tapi untunglah pikiran seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap. Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi bertekad untuk mengkurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.
“mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.
Idul Adha
“Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir bergemuruh dimenara-menara mesjid disekitar wilayahku. Idul Adha telah tiba. Aku melaksanakan shalat idul adha di mesjid raya sekalian menyaksikan pengorbanan kambingku.
¤kata orang aku mirip nabi ibrahim¤
Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar dari kedua bibir. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.
“Pak Ibrahim. Assalamu’alaikum…”
Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren yang ada diwilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing diwilayahku dan belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.
“Gimana Pak Ibrahim?”
Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron tersenyum.
Publikasi
Saatnya mempublikasikan adalah saat unjuk gigi. Jangan pernah malu untuk mempublikasikan tulisan. Jangan pernah menghina tulisan sendiri sebelum mempublikasikannya. Terkadang, ada tulisan yang kita anggap jelek namun menarik menurut orang lain. Sebaliknya, menurut kita tulisan itu menarik, namun respon pembaca biasa-biasa saja. Kesimpulannya, publikasikanlah karya terlebih dahulu dan tunggulah kejutan-kejutan yang menarik.
Radinal Mukhtar Harahap, alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Bermukim di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya.
sumber: http://menuliskreatif.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/
Namun demikian, banyak juga yang tidak jadi melanjutkan cita-citanya sebagai penulis hanya karena tidak dapat menyelesaikan cerpennya. Ada yang tidak tahu darimana mulai menuliskannya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerpennya. Celakanya, ketika ia tidak mengetahui hal tersebut, ia langsung mengutuk dirinya bahwa ia benar-benar tidak berbakat menjadi penulis.
Sebenarnya, tidak ada teori yang pasti mengenai penulisan cerpen. Namun, setidaknya tips dibawah ini dapat digunakan untuk memulai menulis cerpen. Yang penting untuk diingat, tips berikut adalah alat bantu untuk menulis cerpen. Jika kelak tips ini tidak membantu bahkan menyusahkan, jangan sungkan-sungkan untuk melupakannya.
Menentukan Tema Besar
Penentuan tema merupakan hal yang paling penting dalam penulisan cerpen. Sebelum membuat cerpen, setidaknya kita harus menentukan titik tekan (stressing point) dari cerpen tersebut. Ada banyak pilihan tema besar yang bisa kita pilih, diantaranya yaitu persahabatan, percintaan, sosial, budaya, sejarah, politik, sains dan tekhnologi, agama, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita memilih tema besar SEJARAH. Dari tema inilah kelak, kita akan membuat cerpen.
Menentukan Ide Cerita
Setelah kita menentukan tema besar, kita pastinya mempunyai ide-ide cerita yang berkaitan dengan tema besar tersebut. Percintaan misalnya, dalam hal ini kita bisa menemukan ide tentang pernikahan, perjumpaan pertama, rebutan pacar, saling kirim surat, dan lain sebagainya. Sangat banyak ide yang berkeliaran tentang tema percintaan. Begitu juga dengan tema-tema lainnya.
Dalam hal ini, ada satu hal yang filosofi menulis yang perlu kita ingat. “Janganlah memikirkan apa yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang sedang dipikirkan!” tulislah ide-ide itu sebanyak-banyaknya. Jangan pernah takut salah. Toh, ini belum menjadi cerpen. Hanya pencatatan ide saja. Karena tadi kita telah memilih SEJARAH sebagai tema besar, kita mungkin bisa mencatat ide sebagai berikut: cerita nabi, sejarah kemerdekaan, dongeng-dongeng masyarakat, malin kundang, sangkuriang, dan lain sebagainya.
Mengembangkan Ide
Nah, inilah saatnya kita mengembangkan ide-ide tersebut. Dari sekian banyak ide yang kita tuliskan, tentulah ada satu ide yang sangat akrab ditelinga bahkan telah ada gambaran mengenai jalan ceritanya. Itulah yang harus kita kembangkan.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu kita ingat adalah TEORI MENULIS ITU MUNCUL SETELAH ADA TULISAN. Jadi, tulislah sesuka hati, jangan pernah memikirkan apakah cerpen kita sesuai EYD atau tidak. Cerpen tersebut masuk akal atau tidak. Tokoh cerpen ini menarik atau tidak. Setting kejadiannya sesuai dengan aslinya atau tidak. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Dari ide diatas tadi, kita akan mengembangkan cerita nabi terkhusus nabi Ibrahim.
Merias Cerpen
Setelah ide tersebut kita kembangkan hingga dirasa cukup dan selesai, kini tibalah saatnya kita merias cerpen tersebut. Ingatlah sebuah teori yang mengatakan bahwa TIDAK ADA TULISAN YANG BAGUS KETIKA DITULIS PERTAMA KALINYA. Semua tulisan pastilah melalui proses editing. Dalam proses inilah, kita perlu memikirkan EYD, masuk akal atau tidaknya cerpen, tokohnya menarik atau tidak, dialognya terlalu formal atau nyata, setting kejadiannya sesuai asli atau tidak.
Kita juga perlu memikirkan apakah akhir dari cerpen ini memuaskan pembaca atau tidak. Mudah ditebak atau tidak. Jika semuanya telah cukup, selamat cerpen tersebut telah selesai.
Sebagai contoh berikut cerpen saya yang berhasil saya tulis dan telah dimuat di Nalar Magazine Edisi Pertama
Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim
Beberapa Bulan Yang Lalu
“Dek!” ujarku dihadapan istriku.
“Idul Adha tahun ini Abang ingin berkurban 1 ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”
“Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi dihadapanku.
Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum kambingku melahirkan. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.
Sebulan Menjelang Idul Adha
Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan induk perempuan dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani oleh kambing jantanku.
“tok…tok…tok!” suara ketukan pintu rumahku.
Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri dihadapanku. Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilahkannya untuk masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto, salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha. Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan beberapa bulan yang lalu.
“Bagaimanakah hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.
Ditengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan harta dijalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.
Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia kurban wilayahku. Dijalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.
“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.
“Wa’alaikum Salam” sapaku seraya bersalaman dengannya.
“Mau kemana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu”
Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami berhak untuk menerima hewan kurban bukan mengkurbankan hewan.
“Allah pasti tau mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tau toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim. Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan. Pakai doa dan tawakkal? Tidak mungkin pak! Lebih baik dipikirkan lagi tentang rencana itu.
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara. Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.
Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia mengetahui niatku tetapi, sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi kasihan terhadap nasibku.
“Lho? Bukankah pak Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”
“Ya saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya.” Begitu jawabku.
“atau saya beli. 700 ribu. Bapakkan bisa membeli kambing yang berharga 500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan solusi
Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun tidak dengan kambingku.
Tapi untunglah pikiran seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap. Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi bertekad untuk mengkurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.
“mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.
Idul Adha
“Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir bergemuruh dimenara-menara mesjid disekitar wilayahku. Idul Adha telah tiba. Aku melaksanakan shalat idul adha di mesjid raya sekalian menyaksikan pengorbanan kambingku.
¤kata orang aku mirip nabi ibrahim¤
Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar dari kedua bibir. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.
“Pak Ibrahim. Assalamu’alaikum…”
Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren yang ada diwilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing diwilayahku dan belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.
“Gimana Pak Ibrahim?”
Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron tersenyum.
Publikasi
Saatnya mempublikasikan adalah saat unjuk gigi. Jangan pernah malu untuk mempublikasikan tulisan. Jangan pernah menghina tulisan sendiri sebelum mempublikasikannya. Terkadang, ada tulisan yang kita anggap jelek namun menarik menurut orang lain. Sebaliknya, menurut kita tulisan itu menarik, namun respon pembaca biasa-biasa saja. Kesimpulannya, publikasikanlah karya terlebih dahulu dan tunggulah kejutan-kejutan yang menarik.
Radinal Mukhtar Harahap, alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Bermukim di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya.
sumber: http://menuliskreatif.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/
Tips Menulis Cerpen
Menulis cerpen adalah salah satu “jalan pintas” yang paling sering digunakan seseorang untuk merintis jalan menjadi seorang penulis. Sebelum menjadi penulis beken, biasanya seseorang memulai dengan menulis cerpen di media massa atau majalah-majalah remaja. Cara seperti ini sah-sah saja dilakukan. Toh dengan menulis cerpen, sebenarnya kita juga sedang berbagi ideologi dari kisah-kisah pendek tersebut sebagaimana menulis novel, opini, artikel bahkan buku bacaan.
Namun demikian, banyak juga yang tidak jadi melanjutkan cita-citanya sebagai penulis hanya karena tidak dapat menyelesaikan cerpennya. Ada yang tidak tahu darimana mulai menuliskannya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerpennya. Celakanya, ketika ia tidak mengetahui hal tersebut, ia langsung mengutuk dirinya bahwa ia benar-benar tidak berbakat menjadi penulis.
Sebenarnya, tidak ada teori yang pasti mengenai penulisan cerpen. Namun, setidaknya tips dibawah ini dapat digunakan untuk memulai menulis cerpen. Yang penting untuk diingat, tips berikut adalah alat bantu untuk menulis cerpen. Jika kelak tips ini tidak membantu bahkan menyusahkan, jangan sungkan-sungkan untuk melupakannya.
Menentukan Tema Besar
Penentuan tema merupakan hal yang paling penting dalam penulisan cerpen. Sebelum membuat cerpen, setidaknya kita harus menentukan titik tekan (stressing point) dari cerpen tersebut. Ada banyak pilihan tema besar yang bisa kita pilih, diantaranya yaitu persahabatan, percintaan, sosial, budaya, sejarah, politik, sains dan tekhnologi, agama, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita memilih tema besar SEJARAH. Dari tema inilah kelak, kita akan membuat cerpen.
Menentukan Ide Cerita
Setelah kita menentukan tema besar, kita pastinya mempunyai ide-ide cerita yang berkaitan dengan tema besar tersebut. Percintaan misalnya, dalam hal ini kita bisa menemukan ide tentang pernikahan, perjumpaan pertama, rebutan pacar, saling kirim surat, dan lain sebagainya. Sangat banyak ide yang berkeliaran tentang tema percintaan. Begitu juga dengan tema-tema lainnya.
Dalam hal ini, ada satu hal yang filosofi menulis yang perlu kita ingat. “Janganlah memikirkan apa yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang sedang dipikirkan!” tulislah ide-ide itu sebanyak-banyaknya. Jangan pernah takut salah. Toh, ini belum menjadi cerpen. Hanya pencatatan ide saja. Karena tadi kita telah memilih SEJARAH sebagai tema besar, kita mungkin bisa mencatat ide sebagai berikut: cerita nabi, sejarah kemerdekaan, dongeng-dongeng masyarakat, malin kundang, sangkuriang, dan lain sebagainya.
Mengembangkan Ide
Nah, inilah saatnya kita mengembangkan ide-ide tersebut. Dari sekian banyak ide yang kita tuliskan, tentulah ada satu ide yang sangat akrab ditelinga bahkan telah ada gambaran mengenai jalan ceritanya. Itulah yang harus kita kembangkan.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu kita ingat adalah TEORI MENULIS ITU MUNCUL SETELAH ADA TULISAN. Jadi, tulislah sesuka hati, jangan pernah memikirkan apakah cerpen kita sesuai EYD atau tidak. Cerpen tersebut masuk akal atau tidak. Tokoh cerpen ini menarik atau tidak. Setting kejadiannya sesuai dengan aslinya atau tidak. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Dari ide diatas tadi, kita akan mengembangkan cerita nabi terkhusus nabi Ibrahim.
Merias Cerpen
Setelah ide tersebut kita kembangkan hingga dirasa cukup dan selesai, kini tibalah saatnya kita merias cerpen tersebut. Ingatlah sebuah teori yang mengatakan bahwa TIDAK ADA TULISAN YANG BAGUS KETIKA DITULIS PERTAMA KALINYA. Semua tulisan pastilah melalui proses editing. Dalam proses inilah, kita perlu memikirkan EYD, masuk akal atau tidaknya cerpen, tokohnya menarik atau tidak, dialognya terlalu formal atau nyata, setting kejadiannya sesuai asli atau tidak.
Kita juga perlu memikirkan apakah akhir dari cerpen ini memuaskan pembaca atau tidak. Mudah ditebak atau tidak. Jika semuanya telah cukup, selamat cerpen tersebut telah selesai.
Sebagai contoh berikut cerpen saya yang berhasil saya tulis dan telah dimuat di Nalar Magazine Edisi Pertama
Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim
Beberapa Bulan Yang Lalu
“Dek!” ujarku dihadapan istriku. “Idul Adha tahun ini Abang ingin berkurban 1 ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”
“Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi dihadapanku.
Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum kambingku melahirkan. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.
Sebulan Menjelang Idul Adha
Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan induk perempuan dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani oleh kambing jantanku.
“tok…tok…tok!” suara ketukan pintu rumahku.
Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri dihadapanku. Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilahkannya untuk masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto, salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha. Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan beberapa bulan yang lalu.
“Bagaimanakah hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.
Ditengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan harta dijalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.
Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia kurban wilayahku. Dijalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.
“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.
“Wa’alaikum Salam” sapaku seraya bersalaman dengannya.
“Mau kemana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu”
Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami berhak untuk menerima hewan kurban bukan mengkurbankan hewan.
“Allah pasti tau mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tau toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim. Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan. Pakai doa dan tawakkal? Tidak mungkin pak! Lebih baik dipikirkan lagi tentang rencana itu.
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara. Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.
Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia mengetahui niatku tetapi, sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi kasihan terhadap nasibku.
“Lho? Bukankah pak Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”
“Ya saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya.” Begitu jawabku.
“atau saya beli. 700 ribu. Bapakkan bisa membeli kambing yang berharga 500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan solusi
Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun tidak dengan kambingku.
Tapi untunglah pikiran seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap. Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi bertekad untuk mengkurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.
“mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.
Idul Adha
“Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir bergemuruh dimenara-menara mesjid disekitar wilayahku. Idul Adha telah tiba. Aku melaksanakan shalat idul adha di mesjid raya sekalian menyaksikan pengorbanan kambingku.
¤kata orang aku mirip nabi ibrahim¤
Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar dari kedua bibir. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.
“Pak Ibrahim. Assalamu’alaikum…”
Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren yang ada diwilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing diwilayahku dan belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.
“Gimana Pak Ibrahim?”
Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron tersenyum.
Publikasi
Saatnya mempublikasikan adalah saat unjuk gigi. Jangan pernah malu untuk mempublikasikan tulisan. Jangan pernah menghina tulisan sendiri sebelum mempublikasikannya. Terkadang, ada tulisan yang kita anggap jelek namun menarik menurut orang lain. Sebaliknya, menurut kita tulisan itu menarik, namun respon pembaca biasa-biasa saja. Kesimpulannya, publikasikanlah karya terlebih dahulu dan tunggulah kejutan-kejutan yang menarik.
Radinal Mukhtar Harahap, alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Bermukim di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya.
sumber: http://menuliskreatif.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/
Namun demikian, banyak juga yang tidak jadi melanjutkan cita-citanya sebagai penulis hanya karena tidak dapat menyelesaikan cerpennya. Ada yang tidak tahu darimana mulai menuliskannya. Ada juga yang tidak tahu bagaimana mengakhiri cerpennya. Celakanya, ketika ia tidak mengetahui hal tersebut, ia langsung mengutuk dirinya bahwa ia benar-benar tidak berbakat menjadi penulis.
Sebenarnya, tidak ada teori yang pasti mengenai penulisan cerpen. Namun, setidaknya tips dibawah ini dapat digunakan untuk memulai menulis cerpen. Yang penting untuk diingat, tips berikut adalah alat bantu untuk menulis cerpen. Jika kelak tips ini tidak membantu bahkan menyusahkan, jangan sungkan-sungkan untuk melupakannya.
Menentukan Tema Besar
Penentuan tema merupakan hal yang paling penting dalam penulisan cerpen. Sebelum membuat cerpen, setidaknya kita harus menentukan titik tekan (stressing point) dari cerpen tersebut. Ada banyak pilihan tema besar yang bisa kita pilih, diantaranya yaitu persahabatan, percintaan, sosial, budaya, sejarah, politik, sains dan tekhnologi, agama, dan lain sebagainya. Sebagai contoh, kita memilih tema besar SEJARAH. Dari tema inilah kelak, kita akan membuat cerpen.
Menentukan Ide Cerita
Setelah kita menentukan tema besar, kita pastinya mempunyai ide-ide cerita yang berkaitan dengan tema besar tersebut. Percintaan misalnya, dalam hal ini kita bisa menemukan ide tentang pernikahan, perjumpaan pertama, rebutan pacar, saling kirim surat, dan lain sebagainya. Sangat banyak ide yang berkeliaran tentang tema percintaan. Begitu juga dengan tema-tema lainnya.
Dalam hal ini, ada satu hal yang filosofi menulis yang perlu kita ingat. “Janganlah memikirkan apa yang mau ditulis, tapi tulislah apa yang sedang dipikirkan!” tulislah ide-ide itu sebanyak-banyaknya. Jangan pernah takut salah. Toh, ini belum menjadi cerpen. Hanya pencatatan ide saja. Karena tadi kita telah memilih SEJARAH sebagai tema besar, kita mungkin bisa mencatat ide sebagai berikut: cerita nabi, sejarah kemerdekaan, dongeng-dongeng masyarakat, malin kundang, sangkuriang, dan lain sebagainya.
Mengembangkan Ide
Nah, inilah saatnya kita mengembangkan ide-ide tersebut. Dari sekian banyak ide yang kita tuliskan, tentulah ada satu ide yang sangat akrab ditelinga bahkan telah ada gambaran mengenai jalan ceritanya. Itulah yang harus kita kembangkan.
Dalam hal ini, satu hal yang perlu kita ingat adalah TEORI MENULIS ITU MUNCUL SETELAH ADA TULISAN. Jadi, tulislah sesuka hati, jangan pernah memikirkan apakah cerpen kita sesuai EYD atau tidak. Cerpen tersebut masuk akal atau tidak. Tokoh cerpen ini menarik atau tidak. Setting kejadiannya sesuai dengan aslinya atau tidak. Jangan pernah memikirkan hal-hal yang demikian. Dari ide diatas tadi, kita akan mengembangkan cerita nabi terkhusus nabi Ibrahim.
Merias Cerpen
Setelah ide tersebut kita kembangkan hingga dirasa cukup dan selesai, kini tibalah saatnya kita merias cerpen tersebut. Ingatlah sebuah teori yang mengatakan bahwa TIDAK ADA TULISAN YANG BAGUS KETIKA DITULIS PERTAMA KALINYA. Semua tulisan pastilah melalui proses editing. Dalam proses inilah, kita perlu memikirkan EYD, masuk akal atau tidaknya cerpen, tokohnya menarik atau tidak, dialognya terlalu formal atau nyata, setting kejadiannya sesuai asli atau tidak.
Kita juga perlu memikirkan apakah akhir dari cerpen ini memuaskan pembaca atau tidak. Mudah ditebak atau tidak. Jika semuanya telah cukup, selamat cerpen tersebut telah selesai.
Sebagai contoh berikut cerpen saya yang berhasil saya tulis dan telah dimuat di Nalar Magazine Edisi Pertama
Kata Orang Aku Mirip Nabi Ibrahim
Beberapa Bulan Yang Lalu
“Dek!” ujarku dihadapan istriku. “Idul Adha tahun ini Abang ingin berkurban 1 ekor kambing kalau kambing kita jadi melahirkan besok.”
“Terserah abang aja,” ujar istriku sambil menghidangkan kopi dihadapanku.
Itulah pembicaraanku dengan istriku tercinta malam hari sebelum kambingku melahirkan. Dengan lahirnya kambingku, nazarku untuk berkurban Idul Adha ini harus kupenuhi.
Sebulan Menjelang Idul Adha
Sekuat apapun manusia, sekaya apapun pengusaha, tak akan mampu menghalangi datangnya musibah. Musibah terkadang adalah awal dari kenikmatan bila kita sabar dalam menghadapinya. Tetapi, manusia sering tidak mampu untuk bersabar dalam menghadapi segala musibah. Sehari setelah kematian dua kambingku, anak kambing yang baru dilahirkan dan induk perempuan dari kambing tersebut karena keracunan, istriku menyusul menghadap keharibaan Allah SWT. Istriku meninggal akibat penyakit tipus yang dideritanya. Peristiwa ini membuat kesendirian dalam diriku ditemani oleh kambing jantanku.
“tok…tok…tok!” suara ketukan pintu rumahku.
Kubuka pintu dan seorang lelaki setengah baya berdiri dihadapanku. Diucapkannya salam dan aku membalasnya seraya mempersilahkannya untuk masuk. Akan tetapi ia menolak dengan alasan masih banyak rumah yang harus disinggahinya. Lelaki itu memperkenalkan dirinya. Namanya Yanto, salah seorang panitia penyelenggara kurban pada hari raya Idul Adha. Kedatangannya itu mengingatkanku pada nazar yang telah kuniatkan beberapa bulan yang lalu.
“Bagaimanakah hidupku bila kambing satu-satunya yang kumiliki kukurbankan? Apakah harta yang menopang kehidupanku? Hartaku satu-satunya hanyalah kambing itu, dan aku telah menazarkannya beberapa bulan yang lalu. Bolehkah aku membatalkan nazarku dengan alasan tidak adanya hartaku selain kambingku itu?” pertanyaan demi pertanyaan itu berkelabat hebat dalam pikiranku.
Ditengah kesendirianku itu, aku akhirnya membulatkan tekad untuk tetap mengorbankan kambingku satu-satunya itu. Aku yakin Allah akan menggantinya dengan ganti yang lebih besar dan lebih mulia. Bukankah Allah telah menjanjikan bahwa barang siapa yang mengorbankan harta dijalan-Nya akan mendapatkan ganti yang lebih banyak dan lebih mulia dari apa yang diberikannya? Bukankah barang siapa yang “menolong” Allah akan ditolong oleh Allah? Itulah yang menjadi tekadku dalam hati.
Akhirnya, aku membawa kambingku menuju Mesjid Raya, sekretariat panitia kurban wilayahku. Dijalan, aku bertemu dengan Pak Bram, salah satu tetangga yang kurang berkecukupan, sama seperti diriku.
“Assalamu’alaikum, Pak Ibrahim!” sapanya.
“Wa’alaikum Salam” sapaku seraya bersalaman dengannya.
“Mau kemana ni, Pak!” ujarnya lanjut, “Singgah dulu”
Akupun singgah sebentar. Kuceritakan padanya niatku tentang pengorbanan kambingku. Kurasa ia kurang setuju. Ia berdalih bahwa berkorban itu hanya bagi orang yang mampu. Orang-orang seperti kami berhak untuk menerima hewan kurban bukan mengkurbankan hewan.
“Allah pasti tau mana yang miskin dan mana yang kaya. Walaupun Pak Ibrahim itu telah bernazar untuk mengorbankan kambing, Allah pasti tau toh, bahwa Pak Ibrahim masih membutuhkan kambing itu. Karena memang kambing itulah kambing satu-satunya yang merupakan harta pak Ibrahim. Bagaimana pak Ibrahim akan hidup kalau kambing satu-satunya dikorbankan. Pakai doa dan tawakkal? Tidak mungkin pak! Lebih baik dipikirkan lagi tentang rencana itu.
Aku hanya menjawab dengan senyuman. Orang seperti Pak Bram kalau dilawan akan bertambah semangat menantang. Maklum, orang miskin biasanya emosian kalau diajak berbicara. Akupun pamit setelah beberapa menit berbincang dengannnya.
Beberapa meter sebelum sampai ke Mesjid, kulihat Pak Rudi baru keluar dari pagar mesjid. Kusapa dia dan berbincang sebentar dengannya. Ia mengetahui niatku tetapi, sama seperti Pak Bram, sepertinya Pak Rudi kasihan terhadap nasibku.
“Lho? Bukankah pak Ibrahim masih membutuhkan kambingnya? Dengan apa pak Ibrahim hidup tanpa kambing? Apa tidak ditunda dulu hingga tahun depan?”
“Ya saya percaya saja pada Allah, Pak! Saya hanya ingin menunaikan nazar saya.” Begitu jawabku.
“atau saya beli. 700 ribu. Bapakkan bisa membeli kambing yang berharga 500 ribu dan 200 ribunya bisa bapak jadikan modal?” Pak Rudi menawarkan solusi
Hatiku sempat goyah. 200 ribu bagiku adalah modal yang cukup besar dan berharga. Bila aku membelikan kambing yang berharga 500 ribu, bukankah aku telah menunaikan nazarku? Walaupun tidak dengan kambingku.
Tapi untunglah pikiran seperti itu hanya tersimpan dalam relung hatiku tanpa sempat terucap. Sekali lagi aku hanya berterima kasih kepada Pak Rudi dan aku tetapi bertekad untuk mengkurbankan kambingku tanpa menjualnya terlebih dahulu.
“mau dibantu ko’ nolak?!” begitu ujar pak Rudi berbisik sebelum meninggalkanku.
Idul Adha
“Allahu Akbar…..Allahu Akbar….Allahu Akbar…” sayup-sayup takbir bergemuruh dimenara-menara mesjid disekitar wilayahku. Idul Adha telah tiba. Aku melaksanakan shalat idul adha di mesjid raya sekalian menyaksikan pengorbanan kambingku.
¤kata orang aku mirip nabi ibrahim¤
Darah bersih keluar dari leher kambingku diiringi takbirku yang keluar dari kedua bibir. Mataku berkaca pertanda kebahagiaan Allah masih memberi kesempatan untuk berkurban kepadaku.
“Pak Ibrahim. Assalamu’alaikum…”
Suara itu milik Ustadz Imron, salah seorang pimpinan Pondok Pesantren yang ada diwilayahku. Beliau mengajakku berbincang-bincang. Rupanya beliau punya rencana untuk membuat peternakan kambing diwilayahku dan belum mendapatkan penggembalanya. Ia menawarkan pekerjaan ini kepadaku.
“Gimana Pak Ibrahim?”
Mataku berkaca. Aku teringat tatkala Nabi Ibrahim mendapatkan anaknya kembali setelah “menyembelihnya”. Kusujudkan tubuhku. Ustadz Imron tersenyum.
Publikasi
Saatnya mempublikasikan adalah saat unjuk gigi. Jangan pernah malu untuk mempublikasikan tulisan. Jangan pernah menghina tulisan sendiri sebelum mempublikasikannya. Terkadang, ada tulisan yang kita anggap jelek namun menarik menurut orang lain. Sebaliknya, menurut kita tulisan itu menarik, namun respon pembaca biasa-biasa saja. Kesimpulannya, publikasikanlah karya terlebih dahulu dan tunggulah kejutan-kejutan yang menarik.
Radinal Mukhtar Harahap, alumnus PP. Ar-Raudhatul Hasanah Medan. Bermukim di Pesantren IAIN Sunan Ampel Surabaya.
sumber: http://menuliskreatif.com/2009/05/tips-menulis-cerpen/
Kalahkan
Aku harus bisa mengalahkan diriku sendiri terlebih dahulu, untuk bisa mengalahkan segalanya.
Mengalahkan kaki untuk memaksanya mengalahkan jalan yang terjal dalam melangkah menuju kesuksesan di hadapan-Nya.
Mengalahkan tangan untuk memaksanya mengalahkan kebakhilan yang menjadi penyakit akut bagi setiap orang.
Mengalahkan mulut untuk memaksanya mengalahkan pembicaraan yang tiada guna dan menggantinya dengn dengan pembicaraan yang tepat guna
Mengalahkan mata untuk memaksanya mengalahkan kokohnya tembok yang membendung tangis dalam bermunajat kepada-Nya, hingga dalam diri bisa merasa sangat rendah dan hina karna banyaknya dosa dan mengaku kepada-Nya
Mengalahkan telinga untuk memaksanya mengalahkan dinding kepura-puraan tuli dalam mendengarkan tutur yang mengajak kearah kebaikan
Mengalahkan otak untuk memaksanya mengalahkan fikiran dan mengendalikannya untuk menyetir tubuh ke jalan yang lurus
Mengalahkan pelupuk mata untuk memaksanya mengalahkan kantuk di sepertiga malam
Mengalahkan perut untuk memaksanya mengalahkan rasa ingin selalu kenyang agar bisa lebih bijak dalam memahami makna kehidupan
Mengalahkan hati untuk memaksanya menglahkan iri, dengki, hasut, fitnah yang menghambat terciptanya kerukunan bersaudara
Mengalahkan kelamin untuk memaksanya mengalahkan perilaku keji yang tidak terkontrol yang menjadi penyakit kambuhan masyarakat
Mengalahkan syahwat untuk memaksanya mengalahkan rasa ingin melakukan apa saja yang disukai tanpa mempedulikan hukum, norma, atau lainnya
Mengalahkan semuanya untuk memaksanya lebih dekatkepada sang pencipta dalam setiap langkah, gerak, ucap, pandang, dengar, fikir, pejam, batin, rasa, keinginan.
Ya Allah kalahkanlah aku, kalahkanlah sifat angkuhku, agar aku dapat tunduk dan Kau perbudak aku dalam haribaan rahmat-Mu.
Mengalahkan kaki untuk memaksanya mengalahkan jalan yang terjal dalam melangkah menuju kesuksesan di hadapan-Nya.
Mengalahkan tangan untuk memaksanya mengalahkan kebakhilan yang menjadi penyakit akut bagi setiap orang.
Mengalahkan mulut untuk memaksanya mengalahkan pembicaraan yang tiada guna dan menggantinya dengn dengan pembicaraan yang tepat guna
Mengalahkan mata untuk memaksanya mengalahkan kokohnya tembok yang membendung tangis dalam bermunajat kepada-Nya, hingga dalam diri bisa merasa sangat rendah dan hina karna banyaknya dosa dan mengaku kepada-Nya
Mengalahkan telinga untuk memaksanya mengalahkan dinding kepura-puraan tuli dalam mendengarkan tutur yang mengajak kearah kebaikan
Mengalahkan otak untuk memaksanya mengalahkan fikiran dan mengendalikannya untuk menyetir tubuh ke jalan yang lurus
Mengalahkan pelupuk mata untuk memaksanya mengalahkan kantuk di sepertiga malam
Mengalahkan perut untuk memaksanya mengalahkan rasa ingin selalu kenyang agar bisa lebih bijak dalam memahami makna kehidupan
Mengalahkan hati untuk memaksanya menglahkan iri, dengki, hasut, fitnah yang menghambat terciptanya kerukunan bersaudara
Mengalahkan kelamin untuk memaksanya mengalahkan perilaku keji yang tidak terkontrol yang menjadi penyakit kambuhan masyarakat
Mengalahkan syahwat untuk memaksanya mengalahkan rasa ingin melakukan apa saja yang disukai tanpa mempedulikan hukum, norma, atau lainnya
Mengalahkan semuanya untuk memaksanya lebih dekatkepada sang pencipta dalam setiap langkah, gerak, ucap, pandang, dengar, fikir, pejam, batin, rasa, keinginan.
Ya Allah kalahkanlah aku, kalahkanlah sifat angkuhku, agar aku dapat tunduk dan Kau perbudak aku dalam haribaan rahmat-Mu.
Langganan:
Postingan (Atom)